10:11 PM
0
Selamat malam. Sebelumnya saya mohon maaf karena belakangan ini jarang mengupdate blog saya, karena sedang sibuk dengan kegiatan orientasi di kampus *cie anak kampus. Kali ini saya tidak ingin membicarakan hal yang berhubungan dengan Jepang, melainkan ingin menceritakan suatu pengalaman menarik yang saya dapatkan dua minggu lalu.

Agama, Tuhan dan hal lain yang menyangkut kepercayaan manusia memang menjadi topik yang tak habis-habisnya dibicarakan, dan seringkali menjadi hal yang kontroversial, menarik ya? Pengalaman saya yang satu ini berkaitan dengan topik tersebut, oleh karena itu saya menyebutnya sebagai pengalaman yang menarik.

Dua minggu lalu, saya chatting dengan seorang teman saya di Skype. Dia warga negara Estonia dan mengakui bahwa dirinya adalah seorang atheis. Sebut saja namanya J. Singkat cerita, J ini salah satu orang Eropa yang mempunyai sedikit asumsi negatif tentang umat beragama khususnya Islam. Realita yang tak asing, bukan? Kita tahu bahwa saat ini Islam masih underestimated religion di wilayah Eropa dan Amerika, dengan embel-embel terorisme, cadar hitam, jilbab-jilbab putih, dan lain-lain. 

Melihat saya tidak menggunakan hijab, mungkin J mengira bahwa saya adalah muslim yang lebih open-minded sehingga ia lebih berani untuk bertanya,

"Kenapa kamu percaya terhadap Tuhan?"

Pertanyaan yang sulit. Saya meminta dia memberi waktu sejenak untuk memikirkan penjelasan dalam bahasa Inggris yang tepat. Maklum saya tidak jago bahasa Inggris -,- setelah beberapa menit, saya mencoba untuk menjawab, kira-kira begini :

A : Sesuatu yang menghubungkan Tuhan dengan manusia hanya 'faith' (rasa percaya). Albert Einstein, orang paling cerdas yang pernah ada (menurut saya) mengatakan seperti itu ketika gurunya bertanya hal yang sama. Rasa percaya adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan teori sains apapun.

J : Hahaha, masih ada orang yang lebih pintar daripada Einstein, yaitu ... (dia menyebutkan sebuah nama, saya lupa, seperti nama orang Uni Soviet). Dia mengatakan bahwa Tuhan itu mati!

A : Itu kan pendapat Einstein, bukan pendapat saya. Saya punya alasan tersendiri mengapa saya percaya bahwa Tuhan itu ada. Kita bisa saja berpikir, bahwa kita bisa menjalani hidup ini dengan kemampuan kita sendiri, kekuatan kita sendiri, kesanggupan kita sendiri. Kita bisa saja berpikir, bahwa kita bisa menjalani hidup ini dengan bantuan orang lain, jikalau kita membutuhkan pertolongan. Tapi disaat kita tidak bisa mengerjakan sesuatu dengan kemampuan kita, orang lain belum tentu ada untuk membantu kita, mereka tidak selalu ada. Contohnya, aku berdoa kepada Tuhan : "Ya Tuhan, pagi ini aku akan menghadapi ujian, tapi semalam aku ketiduran dan belum belajar sama sekali. Gurunya sangat galak, aku tidak mungkin bisa menyontek temanku. Bantu aku Tuhan, aku mohon supaya diberi kemudahan."
Saya butuh suatu tempat untuk meminta, saya membutuhkan sesuatu untuk memohon pertolongan dikala saya kesulitan. Tentunya, ia bukanlah manusia, karena Dia tidak berdiam dan tinggal di suatu tempat di bumi ini, dia selalu ada dimanapun. Walaupun ada dimana-mana, bukan berarti dia berjumlah banyak atau tak terhitung, melainkan karena Dia adalah sesuatu yang sangat besar. Tidak hanya sebesar bumi dan jagad raya, tapi ia lebih besar dari itu.
Mungkin itulah yang sebagian manusia pikirkan, sehingga mereka berpikir bahwa Tuhan itu ada. Tapi tidak semua manusia mempunyai pikiran dan pandangan yang sama. Itulah alasannya mengapa kita berbeda, mengapa saya menjadi seorang muslim dan mengapa kamu memilih menjadi atheis. Ya, itulah alasan saya :)

J : What a statement! Keren! Kamu tahu? Aku jadi tidak berani untuk berdebat soal Tuhan denganmu! Hahaha XD

A : Haha, not really XD but thanks

J : You are indeed :)

0 comments:

Post a Comment